Pintar Saja Tidak Cukup,
Menjadi Kreatif Lebih Baik
Menjadi Kreatif Lebih Baik
|
A
|
lkisah,
ada sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan kedua putrinya. Sebut saja
kedua anak perempuan tersebut Dina dan Olivia. Dina adalah sulung berusia 16
tahun. Sekarang, Ia duduk di kelas 1 SMU. Sedangkan si bungsu, Olivia adalah
murid kelas 1 SMP yang berusia 13 tahun. Mereka berdua tumbuh sebagai dua
bersaudara yang dipenuhi oleh perhatian dan kasih sayang penuh dari kedua orangtuanya.
Anak–anak ini mendapatkan cukup fasilitas dan banyak hal yang tidak dimiliki
oleh anak – anak yang lain, termasuk di dalamnya adalah prestasi belajar yang
sangat baik.
Namun,
sekalipun mereka berdua berada pada satu rumah yang sama, kedua anak – anak ini
memiliki ketertarikan yang berbeda di dalam berkegiatan. Olivia sangat
menyenangi kegiatan seni dan keterampilan. Oleh karenanya, Ia mengikuti
beberapa kursus kesenian seperti kursus menari, menyanyi dan melukis. Sedangkan
Dina yang tidak terlalu menyenangi kesenian. Sehari- hari Dina sibuk
menghabiskan waktu untuk membaca buku – buku pelajaran sekolah.
Bagi
kedua orangtuanya sendiri, Olivia dan Dina adalah dua anak yang sangat berbeda.
Olivia terus didorong menjadi anak dengan bakat yang tinggi di bidang seni
sementara prestasi belajarnya tetap baik. Sementara itu, Dina karena tidak
menujukkan ketertarikan terhadap bidang yang lain selain pelajaran
sekolahnya,kedua orangtuanya hanya memberi materi – materi belajar sekolah
saja.
10
tahun kemudian, ketika mereka memulai langkah untuk menjadi seorang perempuan dewasa,
dimana keberanian berpikir, kemandirian dan semangat berjuang mulai teruji.
Terjadilah hal yang sungguh bertolak belakang diantara mereka berdua. Olivia
menjadi anak yang cekatan, memiliki pergaulan yang luas dan semangat yang
tinggi untuk bekerja. Sementara Dina menjadi anak yang hanya bisa disebut
‘pintar secara akademis’ saja. Dina tidak memiliki semangat juang yang tinggi
dan keberanian yang cukup untuk menghadapi dunianya yang baru, yaitu dunia
kerja. Dina tidak memiliki kemampuan yang lain selain nilai prestasi
akademisnya yang tinggi. Ia tidak terlalu menguasai keterampilan apapun yang
justru berguna pada saat ini.
...................................................................................................................................................
Dari
cerita tadi, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan yang Saya yakin sangat
berguna bagi Bapak dan Ibu sekalian yang sekarang sedang sangat bersemangat dan
berjuang untuk bisa mengantarkan anak – anak menuju masa depan yang cerah.
Kesimpulan pertama,
memberi perhatian secara cukup kepada anak – anak adalah suatu keharusan bagi
orangtua. Cukup dan tidak berlebihan. Dengan memberikan perhatian yang cukup
maka anak – anak akan tumbuh sebagai pribadi – pribadi yang mampu mengenal diri
mereka sendiri, mengenal kelebihan dan kekurangannya sendiri serta mampu
mencari solusi atas kekurangan – kekurangan mereka tersebut.
Kesimpulan kedua,
mampu mendorong anak – anak untuk
menemukan bakatnya adalah tidak kalah penting dengan mendorong mereka untuk
berprestasi secara akademis. Beri semangat anak– anak untuk berprestasi di
dalam hobi – hobinya, kemampuan keterampilannya atau prestasi dalam olah raga, sama besar ketika bapak dan ibu
mendorong dan memberi semangat mereka untuk mengejar prestasi akademis di
sekolah.
Kesimpulan ketiga,
kemampuan – kemampuan di luar kemampuan akademis tidak terlalu berguna pada
saat mereka masih kecil, namun pembiasaan ber-keterampilan akan sangat berguna
ketika mereka dewasa kelak. Boleh jadi pada saat ini bapak dan ibu hanya
terfokus kepada bagaimana agar anak – anak memiliki intelektualitas yang baik
dan akhirnya mampu untuk berprestasi di sekolah. Sampai-sampai sering kita bisa
jumpai ada anak – anak yang hampir kehilangan masa kanak – kanak karena dari
pagi hingga malam mereka hanya dituntut untuk belajar materi – materi di
sekolah terus menerus. Maka alangkah baiknya apabila bapak dan ibu bisa mengimbangi
kebutuhan intelektualitas mereka dengan kreatifitas, melalui dukungan terhadap
hobi positif yang mereka lakukan, atau dengan mengikutsertakan pada kelompok /
kursus seni dan olahraga yang banyak kita temui dimana – mana.
Intelektualitas
dan prestasi akademis bisa dibentuk melalui pola pendidikan akademis di
sekolah. Namun kemandirian, keberanian, kepercayaan diri, respon sosial, reflek
berpikir cepat dan kreatifitas secara optimal bisa dibentuk melalui aktifitas
seni, keterampilan atau aktifitas olahraga. Kami Tim Terapi Belajar akan selalu mendukung segala upaya positif yang
dilakukan oleh Bapak dan Ibu guna meningkatkan kualitas keseluruhan dari anak –
anak. Harapan besar kami, putra dan putri Bapak dan Ibu mampu melewati setiap
tantangan hidup dengan berani dan percaya diri dan mampu menjadi kebanggaan
Indonesia.
Sukses
untuk Kita semua.
(Indrayana – Terapis Terapi Belajar)
Komentar
Posting Komentar